Sabtu, 08 Februari 2014

Laporan Bacaan Puisi


BAB I
Beberapa Catatan Atas Puisi-Puisi Indonesia
Puisi-puisi angkatan dua puluh dan pujangga baru:
Kemerdekaan sebagai cita-cita
Pada fase awal puisi-puisi Indonesia Modern (puisi-puisi M.Yamin dan Rustam Effendi) kemerdekaan dilihat sebagai sesuatu yang dirindukan, jauh, dan sayup-sayup. Mungkin ada keinginan di dalamnya tapi belum terlihat perjuangan dan sikap hidup yang menyertai. Tidak ada usaha pendobrakan terasa dalam puisi-puisi mereka, baik pendobrakan dalam sikap maupun pendobrakan dalam pengungkapan dan struktur puisi.
Pada puisi-puisi Pujangga Baru kemerdekaan tidak lagi diungkapkan pernyataan yang paling dalamdari sebuah pribadi. Namun dilihat dari sudut ini, kemerdekaan dalam puisi-puisi mereka akhirnya mengimplikasikan ketidakberdayaan. Dalam puisi-puisi Angkatan Pujangga Baru kemerdekaan belum dijadikan tema, tapi sudah ada dalam sikap dan cita-cita, terutama pada sikap untuk menyampaikan “ekspresi yang paling individual dan emosi yang paling individuil” (ungkapan yang sering mereka jadikan motto dalam pernyataan-pernyataan).
Unsur musikalitas dalam puisi-puisi mereka terutama lebih banyak dibangun melalui bunyi, kerena emosi memang lebih dekat dengan nyanyian dari pada makna.
Dalam pemilihan kata, mereka lebih banyak mempertimbangkan faktor bunyi dan irama ketimbang faktor makna. Unsur musik darisebuah puisi, mereka bina terutama dari hanya kemerduan bunyi.
Pada sisi yang lain, puisi yang ditulis menjadi kehilangan kedalaman. Kecenderungan untuk bermain-main dengan bunyi dan irama tersebut dan menempatkan makna pada urutan sesudahnya, menyebabkan penyair-penyair yang tidak sekuat Amir Hamzah, hanya menghasilkan puisi-puisi yang enak dibaca (keras), tapi tanpa makna yang dalam.
Bilamana puisi-puisi Angkatan Dua Puluh Pujamgga Baru ini dihubungkan dengan latar belakang zamannya, akan terlihat penghayatan terhadap kemerdekaan yang tergambar di dalam puisi-puisi tersebut punya kaitan dengan situasi zaman dan perjuangan pada waktu itu.
Sementara itu sejak sesudah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, cita-cita tersebut berubah menjadi lebih dalam romantik. Dalam perjuangan kehidupan bangsa pada waktu itu, kemerdekaan belumlah dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak (Angkatan Dua Puluhan), tapi tetap belum dipermasalahkan.

Puisi-puisi Chairil Anwar: Kemerdekaan dalam sikap dan pernyataan
            Pengertian kemerdekaan tidak hanya terbatas pada kemerdekaan sebagai bangsa, tapi terutama adalah kemerdekaan manusia. Pada zamannya, Chairil Anwar tidak hanya berhadapan dengan penjajahan bangsa oleh bangsa, tapi juga dengan sikap-sikap feodal, hipokrisi, kebekuan nilai-nilai, dan bahkan penjajahan manusia oleh manusia.
            Kalau para sastrawan Angkatan 45 bicara tentang kemerdekaan maka itu adalah kaitan (konteks) kemerdekaan manusia, kalau bicara tentang nasib maka itu adalah dalam kaitan nasib manusia.
            Nafas kemerdekaan yang seperti itu terasa hampir pada keseluruhan puisi-puisi Chairil Anwar. Terlihat pada tema-tema yang ia ungkapkan, pada sikap kepenyairannya, dan dalam struktur puisi-puisinya. Pada puisi-puisi Chairil Anwar ketiganya hadir secara utuh dan serempak: sikap, tema dan strukturnya. Puisi-puisinya adalah puisi-puisi yang mempersoalkan kemerdekaan bertolak dari sikap, kemudian menjadikannya sebagai tema, lalu mewarnai struktur puisi-puisinya, terutama terhadap unsur musikalitasnya.
            Chairil Anwar menempatkan kata pada kedudukan tersendiri. Kedudukan justru pada maknanya, bukan pada wujud lahirnya. Ia menempatkan kata pada kedudukan yang amat penting, melalui makna yang terkandung di dalamnya.
            Unsur musikalitas dalam puisi Chairil Anwar tidak hanya didapatkan pada bunyi irama, tapi terutama pada makna. Suasana dibangun tidak hanya melalui kemerdekaan bunyi, tapi terutama pada kaitan-kaitannya makna. Ia lebih banyak berorientasi kepada makna, kepada persamaan-persamaan makna.
            Jika Chairil Anwar mempersoalkan kemerdekaan dalam puisi-puisinya (dalam tema, sikap, dan struktur ) maka dengan itu ia telah memberi corak yang baru dalam kehidupan puisi Indonesia Modern. Puisi-puisi yang mempersoalkan kemerdekaan cenderung untuk mengambil bentuk sebagai puisi protes atau puisi satire. Hal ini juga terasa dominan dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Meskipun puisi-puisi tersebut kelihatan sublim dalam pengungkapannya, namun masih dapat dirasakan nilai protes dan pemberontakannya. Pada Chairil Anwar dan Rendra, protes dan pemberontakan lebih terasa sebagai pemberontakan sosial dan tatap nilai, pada Subagio Sastrowardoyo pemberontakan pikiran, sementara pada Taufik Ismail dan Abdul Hadi menyangkut keduanya. Demikianlah hal sama akan terasa pada puisi-puisi yang ditulis oleh Sitoror Situmorang. Puisi-puisi mereka bukanlah puisi-puisi yang miskin unsur musik, tapi atau cuma, unsur musik itu tidak hanya dibangun melalui kemerduan bunyi melainkan juga dengan metafor-metafor.

Puisi-puisi Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono: Kemerdekaan Tanpa Dipermasalahkan
Jika pada puisi-puisi sebelumnya masa terasa bahwa kemerdekaan dipermasalahkan di dalam puisi, maka akan berbeda jika kita mencoba melihat puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi mereka terasa tidak lagi mempermasalahkan ke dalam, mengalir di dalamnya dengan tenang dan merdeka.
            Kemerdekaan di dalam puisi-puisi mereka bukanlah suatu masalah tapi adalah suatu keadaan. Yang diundang barangkali adalah kearifan, kejatmikaan dalam renungan. Bahkan terhadap masalah yang amat peka sehubungan dengan kemerdekaan pun tidak terasa ada semacam protes, kekecewaan dan kekesalan.
            Pada puisi-puisi dari penyair sebelumnya kata dan maknanya adalah sesuatu yang amat penting. Pada puisi-puisi Sutardji, ibrahim sattah, dan beberapa dari Hamid Jabbar, ada kata yang hadir tanpa maknanya. Namun, mereka masih tetap ingin mendapatkan suasana dari “Kata” yang ditampilkan. Yaitu suasana mistis.
            Meskipun Sutardji Calzoum Bachri menampilkan kata-kata tanpa makna, namun ia masih tetap berorientasi kepada makna dalam mendapatkan suasana yang mistis. Kehadiran kata-kata tanpa makna hanyalah untuk mendapatkan bunyi saja. Dengan bunyi tersebut ia bermaksud mau membangun suasana tersebut.
            Adakalanya dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah dan Hamid Jabbar ini, tidak saja terjadi perubahan dalam bagaimana membangun unsur musik, memilih dan menghadirkan kata, tapi juga dalam menyusun konstruksi sajak-sajaknya.
            Puisi-puisi mereka adalah suatu klimaks dari suatu proses perkembangan penghayatan terhadap kemerdekaan. Umar Yunus dalam salah satu eseinya juga mengatakan bahwa puisi-puisi Sutardji terhadap keadaan sosio budaya yang mengelilinginya ( komunikasi tanpa komunikasi: perkembangan mutakahir: 1975). Umar yunus lebih lanjut mengatakan bahwa gejala-gejala yang terlihat dalam perkembangan Sastra Indonesia Mutakhir (dalam puisi pada Sutardji Calzoum Bachri) adalah suatu proses ascetisisme, suatu proses penyendirian, suatu komunikasi tanpa komunikasi.
            Akan tetapi dilihat dari sudut lain, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, ibrahim sattah, Hamid Jabbar, kemudian puisi-puisi Linus Suryadi AG (dalam pengakuan Pariyem), Husni Djamluddin, Rusli Marzuki Saria (puisi-puisinya yang bertolak dari sastra lisan kaba Minangkabau), Darmanto Yatman, dan beberapa penyair yang lain, adalah puisi-puisi yang mencoba bertolak dari tradisi puisi-puisi subkultur dari mana sang penyair berasal. Penciptaan yang bertolak dari subkultur tersebut tidak dengan penghayatan yang bertolak dari subkultur tersebut tidak dengan penghayatan yang lama, tapi dengan suatu penghayatan dan ekspresi yang baru, sesuai dengan tuntutan dan tantangan zamannya.
            Sebagaimana manusia dan masyarakatnya sendiri yang tidak sepenuhnya bisa terlepas daripadanya, bahkan terasa masih akrab, maka alternatif yang baru menjadi muncul yakni dengan proses penghayatan dan ekspresi yang baru terhadap nilai-nilai dan tradisi puisi dari subkultur tersebut.
            Perkembangan sastra yang demikian akan menjadi penting bilamana pengenalan terhadap nilai-nilai dan tradisi sastra subkultur tersebut dilakukan secara mendalam. Harus dilakukan suatu usaha di mana nilai-nilai dan tradisi sastra dari masing-masing subkultur bisa saling dikenal oleh penyair dan masyarakat dari subkultur yang lain di Nusantara.

BAB II
Sepuluh Petunjuk Dalam Memahami Puisi
Di dalam puisi akan berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa. Proses tersebut adalah: pertama, proses konsentrasi, kedua proses intensifikasi, dan ketiga proses pengimajian (imagery).
Di dalam proses intensifikasi unsur-unsur puisi itu berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih mendalam atau mendasar. Adanya kedua proses ini menyebabkan sebuah puisi menjadi sesuatu pelik, sehingga lebih susah dipahami dibandingkan dengan prosa.
            Segenap unsur puisi (musikalitas, korespondensi, dan bahasa) berfungsi menciptakan atau membangun suatu imaji atau citra tertentu. Bunyi dan rima, hubungan satu lirik (baris) dengan lirik yang lain, dan pilihan kata serta idiom-idiom, semuanya berfungsi membangun imaji atau gambaran tertentu yang dikesankan oleh puisi itu.
            Seseorang yang ingin memahami puisi harus mampu menemukan makna yang terdalam dari setiap kata, frase, larik, bait, ataupun imaji-imaji yang ada didalam puisi itu. Seorang pembaca puisi harus mampu menangkap makna yang terjauh dari sebuah kata atau larik (berdasarkan makna konotiatif yang mungkin dimiliki oleh kata atau larik tersebut).
            Dengan demikian, untuk memahami sebuah puisi dengan baik dan benar diperlukan beberapa prinsip dan petunjuk yang harus dipegang. Prinsip dan petunjuk itu akan membantu mempercepat proses pemahaman terhadap sebuah puisi.
1.      Petunjuk pertama
Perhatikan judulnya. Judul adalah sebuah lubang kunci untuk menengok keseluruhan makna puisi.
Judul biasanya menggambarkan: keseluruhan makna atau identiti (cap) terhadap sebuah puisi. Judul dapat pula memperlihatkan sesuatu yang unik dari puisi itu. Dengan melihat dan memahami judul kemungkinan gambaran keseluruhan makna atau keunikan sebuah puisi akan terbuka.

2.      Petunjuk Kedua
Lihat kata-kata yang dominan. Kata-kata yang sering diulang di dalam sebuah puisi bisa menjadi kata-kata yang dominan terhadap sebuah puisi. Dengan melihat kata-kata yang dominan itu akan terbuka pula kemungkinan untuk memahami makna keseluruhan puisi itu.
3.      Petunjuk ketiga
Selami makna konotatif. Bahasa puisi adalah bahasa yang melewati batas-batas makna nya yang lazim. Dengan makna yang konotatif itu ingin dibentuk suatu imaji atau citra tertentu dalam sebuah puisi.
Makna yang konotatif itu dibentuk dengan pemakaian majas (figure of speech) yakni pemakaian kata yang melewati maknanya yang denotatif.
Untuk tidak sampai kepada arti menyesatkan berpeganglah kepada makna konotaatif yang berlaku umum.
4.      Petunjuk Keempat
Dalam mencari makna yang terungkap di dalam larik atau bait puisi, maka makna yang lebih benar adalah makna yang sesuai struk bahasa
5.      Petunjuk Kelima
Jika mau menangkap pikiran (maksud) di dalam sebuah puisi, prosakan lah (parafrasekanlah) puisi itu terlebih dahulu.
6.      Petunjuk Keenam
Usut siapa yang dimaksud kata-ganti yang ada dan siapa yang mengucapkan kalimat yang ada di dalam tanda kutip (jika ditemukan di dalam sebuah puisi)
7.      Petunjuk Ketujuh
Antara satu unit dengan unit yang lain (larik dengan larik yang lain), bait dengan yang lain) di dalam sebuah puisi, membentuk suatu kesatuan (keutuhan makna) Temukanlah pertalian makna tersebut!
Pertalian makna tersebut biasanya ditentukan oleh (.) titik, (,) koma, pemakaian huruf kapital ataupun huruf kecil, dan penggunaan kata penghubung (seperti dan, serta, juga, dan kata-kata penghubung lainnya)
8.      Petunjuk Kedelapan
Sebuah puisi yang baik selalu mempunyai makna tambahan dari apa yang tersurat. Makna tambahan itu hanya akan bisa di dapatkan sesudah membaca dan memahami puisi itu. Sesudah merenungkan, melalui proses konsentrasi dan intensifikasi
9.      Petunjuk Kesembilan
Puisi yang lebih mementingkan unsur formal akan terlihat dari penonjolan rima ( kesamaan bunyi), pola-pola larik (dengan jumlah suku kata yang relatif sama), dan baik.
Puisi yang lebih mementingkan unsur puitis tidak terikat oleh kehadiran unsur formal. Tidak ada pula larik dan bahkan tidak ada bait. Puisi yang bercorak begini lebih mementingkan suasana puitis melalui imaji-imaji yang diciptakan.
10.  Petunjuk Kesepuluh
Apapun tafsiran (interprestasi) terhadap sebuah puisi, makna tafsiran tersebut harus bisa dikembalikan kepada teks. Dengan arti kata, sering tafsiran harus berdasarkan teks. Harus bisa ditunjukkan kata mana, larik mana, ataupun bait mana yang menjadi sumber tafsiran tersebut.
Bab III
Puisi-Puisi
Pada bab III ini berisi kumpulan-kumpulan puisi yang terdiri dari beberapa penyair yaitu Rustam Efendi,  Muhammad yamin, Sanusi Pane, Amir Hamzah, St. Takbir Alisyahbana, J.E. Tatengkeng, Chairil Anwar, Asrul Sani, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardoyo, Toto Sudarto Bachiar, Hartojo Andang Jaja, Taufik Ismail, Rusli Marzuki Saria, Renra, Abdul Hadi WM, Slmat Sukirnanto, Loen Agusta, Sapardi Djoko damon, Goenawan Mohamad, Darmanto Yatman, B.Y. Tan, Abrar Yusra, Sutardji Calsoum Bachri, Hasan Sattah, Ibraham Sattah, D.Zawawi Imron, Hamid Jabbar, Husni Djamaluddin, Darman Moenir, Yuthistira anm, Massardi, Eka Budianta.
Salah satu contoh puisi yang saya ambil yaitu puisi dari Muhammad Yamin “Permintaan”

PERMINTAAN
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyian penuh santunan
Terbitlah Rindu ketempat lahirku.
Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku.
Dimana laut debur mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Disanalah jiwaku, mula tertabur.
Di mana ombak sembur menyembur
Membasahi barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya aku berkubur    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar