BAB
I
Beberapa
Catatan Atas Puisi-Puisi Indonesia
Puisi-puisi
angkatan dua puluh dan pujangga baru:
Kemerdekaan
sebagai cita-cita
Pada fase awal
puisi-puisi Indonesia Modern (puisi-puisi M.Yamin dan Rustam Effendi)
kemerdekaan dilihat sebagai sesuatu yang dirindukan, jauh, dan sayup-sayup.
Mungkin ada keinginan di dalamnya tapi belum terlihat perjuangan dan sikap
hidup yang menyertai. Tidak ada usaha pendobrakan terasa dalam puisi-puisi
mereka, baik pendobrakan dalam sikap maupun pendobrakan dalam pengungkapan dan
struktur puisi.
Pada puisi-puisi
Pujangga Baru kemerdekaan tidak lagi diungkapkan pernyataan yang paling
dalamdari sebuah pribadi. Namun dilihat dari sudut ini, kemerdekaan dalam
puisi-puisi mereka akhirnya mengimplikasikan ketidakberdayaan. Dalam
puisi-puisi Angkatan Pujangga Baru kemerdekaan belum dijadikan tema, tapi sudah
ada dalam sikap dan cita-cita, terutama pada sikap untuk menyampaikan “ekspresi
yang paling individual dan emosi yang paling individuil” (ungkapan yang sering
mereka jadikan motto dalam pernyataan-pernyataan).
Unsur musikalitas dalam
puisi-puisi mereka terutama lebih banyak dibangun melalui bunyi, kerena emosi
memang lebih dekat dengan nyanyian dari pada makna.
Dalam pemilihan kata,
mereka lebih banyak mempertimbangkan faktor bunyi dan irama ketimbang faktor
makna. Unsur musik darisebuah puisi, mereka bina terutama dari hanya kemerduan
bunyi.
Pada sisi yang lain,
puisi yang ditulis menjadi kehilangan kedalaman. Kecenderungan untuk
bermain-main dengan bunyi dan irama tersebut dan menempatkan makna pada urutan
sesudahnya, menyebabkan penyair-penyair yang tidak sekuat Amir Hamzah, hanya
menghasilkan puisi-puisi yang enak dibaca (keras), tapi tanpa makna yang dalam.
Bilamana puisi-puisi
Angkatan Dua Puluh Pujamgga Baru ini dihubungkan dengan latar belakang
zamannya, akan terlihat penghayatan terhadap kemerdekaan yang tergambar di
dalam puisi-puisi tersebut punya kaitan dengan situasi zaman dan perjuangan
pada waktu itu.
Sementara itu sejak
sesudah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, cita-cita tersebut berubah menjadi lebih
dalam romantik. Dalam perjuangan kehidupan bangsa pada waktu itu, kemerdekaan
belumlah dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak (Angkatan Dua Puluhan), tapi
tetap belum dipermasalahkan.
Puisi-puisi
Chairil Anwar: Kemerdekaan dalam sikap dan pernyataan
Pengertian
kemerdekaan tidak hanya terbatas pada kemerdekaan sebagai bangsa, tapi terutama
adalah kemerdekaan manusia. Pada zamannya, Chairil Anwar tidak hanya berhadapan
dengan penjajahan bangsa oleh bangsa, tapi juga dengan sikap-sikap feodal,
hipokrisi, kebekuan nilai-nilai, dan bahkan penjajahan manusia oleh manusia.
Kalau
para sastrawan Angkatan 45 bicara tentang kemerdekaan maka itu adalah kaitan
(konteks) kemerdekaan manusia, kalau bicara tentang nasib maka itu adalah dalam
kaitan nasib manusia.
Nafas
kemerdekaan yang seperti itu terasa hampir pada keseluruhan puisi-puisi Chairil
Anwar. Terlihat pada tema-tema yang ia ungkapkan, pada sikap kepenyairannya,
dan dalam struktur puisi-puisinya. Pada puisi-puisi Chairil Anwar ketiganya
hadir secara utuh dan serempak: sikap, tema dan strukturnya. Puisi-puisinya
adalah puisi-puisi yang mempersoalkan kemerdekaan bertolak dari sikap, kemudian
menjadikannya sebagai tema, lalu mewarnai struktur puisi-puisinya, terutama terhadap
unsur musikalitasnya.
Chairil
Anwar menempatkan kata pada kedudukan tersendiri. Kedudukan justru pada
maknanya, bukan pada wujud lahirnya. Ia menempatkan kata pada kedudukan yang
amat penting, melalui makna yang terkandung di dalamnya.
Unsur
musikalitas dalam puisi Chairil Anwar tidak hanya didapatkan pada bunyi irama,
tapi terutama pada makna. Suasana dibangun tidak hanya melalui kemerdekaan
bunyi, tapi terutama pada kaitan-kaitannya makna. Ia lebih banyak berorientasi
kepada makna, kepada persamaan-persamaan makna.
Jika
Chairil Anwar mempersoalkan kemerdekaan dalam puisi-puisinya (dalam tema,
sikap, dan struktur ) maka dengan itu ia telah memberi corak yang baru dalam
kehidupan puisi Indonesia Modern. Puisi-puisi yang mempersoalkan kemerdekaan
cenderung untuk mengambil bentuk sebagai puisi protes atau puisi satire. Hal
ini juga terasa dominan dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Meskipun puisi-puisi
tersebut kelihatan sublim dalam pengungkapannya, namun masih dapat dirasakan
nilai protes dan pemberontakannya. Pada Chairil Anwar dan Rendra, protes dan
pemberontakan lebih terasa sebagai pemberontakan sosial dan tatap nilai, pada
Subagio Sastrowardoyo pemberontakan pikiran, sementara pada Taufik Ismail dan
Abdul Hadi menyangkut keduanya. Demikianlah hal sama akan terasa pada
puisi-puisi yang ditulis oleh Sitoror Situmorang. Puisi-puisi mereka bukanlah
puisi-puisi yang miskin unsur musik, tapi atau cuma, unsur musik itu tidak
hanya dibangun melalui kemerduan bunyi melainkan juga dengan metafor-metafor.
Puisi-puisi
Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono: Kemerdekaan Tanpa Dipermasalahkan
Jika pada puisi-puisi
sebelumnya masa terasa bahwa kemerdekaan
dipermasalahkan di dalam puisi, maka akan berbeda jika kita mencoba melihat
puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi mereka
terasa tidak lagi mempermasalahkan ke dalam, mengalir di dalamnya dengan tenang
dan merdeka.
Kemerdekaan
di dalam puisi-puisi mereka bukanlah suatu masalah tapi adalah suatu keadaan. Yang
diundang barangkali adalah kearifan, kejatmikaan dalam renungan. Bahkan
terhadap masalah yang amat peka sehubungan dengan kemerdekaan pun tidak terasa
ada semacam protes, kekecewaan dan kekesalan.
Pada
puisi-puisi dari penyair sebelumnya kata dan maknanya adalah sesuatu yang amat
penting. Pada puisi-puisi Sutardji, ibrahim sattah, dan beberapa dari Hamid
Jabbar, ada kata yang hadir tanpa maknanya. Namun, mereka masih tetap ingin
mendapatkan suasana dari “Kata” yang ditampilkan. Yaitu suasana mistis.
Meskipun
Sutardji Calzoum Bachri menampilkan kata-kata tanpa makna, namun ia masih tetap
berorientasi kepada makna dalam mendapatkan suasana yang mistis. Kehadiran
kata-kata tanpa makna hanyalah untuk mendapatkan bunyi saja. Dengan bunyi
tersebut ia bermaksud mau membangun suasana tersebut.
Adakalanya
dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah dan Hamid Jabbar ini,
tidak saja terjadi perubahan dalam bagaimana membangun unsur musik, memilih dan
menghadirkan kata, tapi juga dalam menyusun konstruksi sajak-sajaknya.
Puisi-puisi
mereka adalah suatu klimaks dari suatu proses perkembangan penghayatan terhadap
kemerdekaan. Umar Yunus dalam salah satu eseinya juga mengatakan bahwa
puisi-puisi Sutardji terhadap keadaan sosio budaya yang mengelilinginya (
komunikasi tanpa komunikasi: perkembangan mutakahir: 1975). Umar yunus lebih
lanjut mengatakan bahwa gejala-gejala yang terlihat dalam perkembangan Sastra
Indonesia Mutakhir (dalam puisi pada Sutardji Calzoum Bachri) adalah suatu
proses ascetisisme, suatu proses penyendirian, suatu komunikasi tanpa
komunikasi.
Akan
tetapi dilihat dari sudut lain, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, ibrahim
sattah, Hamid Jabbar, kemudian puisi-puisi Linus Suryadi AG (dalam pengakuan
Pariyem), Husni Djamluddin, Rusli Marzuki Saria (puisi-puisinya yang bertolak
dari sastra lisan kaba Minangkabau), Darmanto Yatman, dan beberapa penyair yang
lain, adalah puisi-puisi yang mencoba bertolak dari tradisi puisi-puisi
subkultur dari mana sang penyair berasal. Penciptaan yang bertolak dari
subkultur tersebut tidak dengan penghayatan yang bertolak dari subkultur
tersebut tidak dengan penghayatan yang lama, tapi dengan suatu penghayatan dan
ekspresi yang baru, sesuai dengan tuntutan dan tantangan zamannya.
Sebagaimana
manusia dan masyarakatnya sendiri yang tidak sepenuhnya bisa terlepas
daripadanya, bahkan terasa masih akrab, maka alternatif yang baru menjadi
muncul yakni dengan proses penghayatan dan ekspresi yang baru terhadap
nilai-nilai dan tradisi puisi dari subkultur tersebut.
Perkembangan
sastra yang demikian akan menjadi penting bilamana pengenalan terhadap
nilai-nilai dan tradisi sastra subkultur tersebut dilakukan secara mendalam.
Harus dilakukan suatu usaha di mana nilai-nilai dan tradisi sastra dari
masing-masing subkultur bisa saling dikenal oleh penyair dan masyarakat dari
subkultur yang lain di Nusantara.
BAB
II
Sepuluh
Petunjuk Dalam Memahami Puisi
Di dalam puisi akan
berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa. Proses
tersebut adalah: pertama, proses konsentrasi, kedua proses intensifikasi, dan
ketiga proses pengimajian (imagery).
Di dalam proses intensifikasi
unsur-unsur puisi itu berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih
mendalam atau mendasar. Adanya kedua proses ini menyebabkan sebuah puisi
menjadi sesuatu pelik, sehingga lebih susah dipahami dibandingkan dengan prosa.
Segenap
unsur puisi (musikalitas, korespondensi, dan bahasa) berfungsi menciptakan atau
membangun suatu imaji atau citra tertentu. Bunyi dan rima, hubungan satu lirik
(baris) dengan lirik yang lain, dan pilihan kata serta idiom-idiom, semuanya
berfungsi membangun imaji atau gambaran tertentu yang dikesankan oleh puisi
itu.
Seseorang
yang ingin memahami puisi harus mampu menemukan makna yang terdalam dari setiap
kata, frase, larik, bait, ataupun imaji-imaji yang ada didalam puisi itu.
Seorang pembaca puisi harus mampu menangkap makna yang terjauh dari sebuah kata
atau larik (berdasarkan makna konotiatif yang mungkin dimiliki oleh kata atau
larik tersebut).
Dengan
demikian, untuk memahami sebuah puisi dengan baik dan benar diperlukan beberapa
prinsip dan petunjuk yang harus dipegang. Prinsip dan petunjuk itu akan
membantu mempercepat proses pemahaman terhadap sebuah puisi.
1. Petunjuk pertama
Perhatikan judulnya. Judul
adalah sebuah lubang kunci untuk menengok keseluruhan makna puisi.
Judul
biasanya menggambarkan: keseluruhan makna atau identiti (cap) terhadap sebuah
puisi. Judul dapat pula memperlihatkan sesuatu yang unik dari puisi itu. Dengan
melihat dan memahami judul kemungkinan gambaran keseluruhan makna atau keunikan
sebuah puisi akan terbuka.
2. Petunjuk Kedua
Lihat kata-kata yang dominan.
Kata-kata yang sering diulang di dalam sebuah puisi bisa menjadi kata-kata yang
dominan terhadap sebuah puisi. Dengan melihat kata-kata yang dominan itu akan
terbuka pula kemungkinan untuk memahami makna keseluruhan puisi itu.
3. Petunjuk ketiga
Selami makna konotatif.
Bahasa puisi adalah bahasa yang melewati batas-batas makna nya yang lazim.
Dengan makna yang konotatif itu ingin dibentuk suatu imaji atau citra tertentu
dalam sebuah puisi.
Makna
yang konotatif itu dibentuk dengan pemakaian majas (figure of speech) yakni
pemakaian kata yang melewati maknanya yang denotatif.
Untuk
tidak sampai kepada arti menyesatkan berpeganglah kepada makna konotaatif yang
berlaku umum.
4. Petunjuk Keempat
Dalam
mencari makna yang terungkap di dalam larik atau bait puisi, maka makna yang
lebih benar adalah makna yang sesuai struk bahasa
5. Petunjuk Kelima
Jika mau menangkap pikiran (maksud)
di dalam sebuah puisi, prosakan lah (parafrasekanlah) puisi itu terlebih
dahulu.
6. Petunjuk Keenam
Usut siapa yang dimaksud kata-ganti
yang ada dan siapa yang mengucapkan kalimat yang ada di dalam tanda kutip (jika
ditemukan di dalam sebuah puisi)
7. Petunjuk Ketujuh
Antara satu unit dengan unit yang
lain (larik dengan larik yang lain), bait dengan yang lain) di dalam sebuah
puisi, membentuk suatu kesatuan (keutuhan makna) Temukanlah pertalian makna
tersebut!
Pertalian
makna tersebut biasanya ditentukan oleh (.) titik, (,) koma, pemakaian huruf
kapital ataupun huruf kecil, dan penggunaan kata penghubung (seperti dan,
serta, juga, dan kata-kata penghubung lainnya)
8. Petunjuk
Kedelapan
Sebuah
puisi yang baik selalu mempunyai makna tambahan dari apa yang tersurat. Makna
tambahan itu hanya akan bisa di dapatkan sesudah membaca dan memahami puisi
itu. Sesudah merenungkan, melalui proses konsentrasi dan intensifikasi
9. Petunjuk
Kesembilan
Puisi
yang lebih mementingkan unsur formal akan terlihat dari penonjolan rima (
kesamaan bunyi), pola-pola larik (dengan jumlah suku kata yang relatif sama),
dan baik.
Puisi
yang lebih mementingkan unsur puitis tidak terikat oleh kehadiran unsur formal.
Tidak ada pula larik dan bahkan tidak ada bait. Puisi yang bercorak begini
lebih mementingkan suasana puitis melalui imaji-imaji yang diciptakan.
10. Petunjuk
Kesepuluh
Apapun tafsiran (interprestasi)
terhadap sebuah puisi, makna tafsiran tersebut harus bisa dikembalikan kepada
teks. Dengan arti kata, sering tafsiran harus berdasarkan teks.
Harus bisa ditunjukkan kata mana, larik mana, ataupun bait mana yang menjadi
sumber tafsiran tersebut.
Bab III
Puisi-Puisi
Pada bab III ini berisi
kumpulan-kumpulan puisi yang terdiri dari beberapa penyair yaitu Rustam
Efendi, Muhammad yamin, Sanusi Pane,
Amir Hamzah, St. Takbir Alisyahbana, J.E. Tatengkeng, Chairil Anwar, Asrul
Sani, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardoyo, Toto Sudarto Bachiar, Hartojo
Andang Jaja, Taufik Ismail, Rusli Marzuki Saria, Renra, Abdul Hadi WM, Slmat
Sukirnanto, Loen Agusta, Sapardi Djoko damon, Goenawan Mohamad, Darmanto
Yatman, B.Y. Tan, Abrar Yusra, Sutardji Calsoum Bachri, Hasan Sattah, Ibraham
Sattah, D.Zawawi Imron, Hamid Jabbar, Husni Djamaluddin, Darman Moenir,
Yuthistira anm, Massardi, Eka Budianta.
Salah satu contoh puisi
yang saya ambil yaitu puisi dari Muhammad Yamin “Permintaan”
PERMINTAAN
Mendengarkan ombak pada
hampirku
Debar-mendebar kiri dan
kanan
Melagukan nyanyian
penuh santunan
Terbitlah Rindu
ketempat lahirku.
Sebelah Timur pada
pinggirku
Diliputi langit berawan
Kelihatan pulau penuh
keheranan
Itulah gerangan tanah
airku.
Dimana laut debur
mendebur
Serta mendesir tiba di
pasir
Disanalah jiwaku, mula
tertabur.
Di mana ombak sembur
menyembur
Membasahi barisan
sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya
aku berkubur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar